Minggu, 19 April 2009

Mengapa ada manusia yang sombong, takabur, egois atau sifat-sfiat nyeleneh lainnya? Mungkin karena dia merasa dirinya cukup, sehingga seolah tidak punya hubungan kepentingan dengan makhluk lain dan alam lingkungannya. Padahal pakaian yang dipakainya hanyalah bulu hadiah dari domba, atau kapas, atau serta pohon kayu; emas dan berlian yang menghiasi dirinya, atau rumah gedung yang didiaminya hanyalah hibah dari tanah. Dan dapat dipastikan, semua itu diperolehnya bukan hasil jerihpayahnya sendiri, melainkan dengan bantuan manusia lain, entah orang sekampung, senegara, atau orang dari Negara lain yang menjadi bagian masyarakat dunia.

Oleh karena itu, Nabi Muhammda SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia ialah yang mendatangkan manfaat kepada manusia yang lain.” Sabda nabi ini mengisyaratkan agar manusia hidup dalam kebersamaan, berusaha saling memberi manfaat terhadap satu sama lainnya. Bukan sebaliknya, manusia yang satu memanfaatkan manusia yang lain.

Manakala di anatara 200an juta orang Indonesia, atau lima milyaran manusia dunia masing-masing mendatangkan manfaat kepada yang lainnya, alangkah nikmatnya hidup di Negara ini, alangkah nyamannya hidup di bumi ini. Kendatipun sebagian besar merasa serba kekurangan, karena persaingan ketat di era globalisasi yang tak terhindarkan itu, insya Allah akan berjalan dengan baik, karena diperjuangkan oleh orang-orang yang baik pula.

“Di sana berjuang sekuat tenaga dan di sini bertarung sehabis daya, maka hasil yang di sana diberikan ke sini, hasil yang di sini dikirim ke sana. Yang di lembah menggamit-gamit, dan yang di bukit melambai- lambai, yang tinggi menurun, yang rendah mendaki hingga semua nanti berhimpun di antara kebahagiaan hidup bersama.” (Demikian ditulis H.M. Bustami Ibrahim dalam bukunya Budi dalam Kehidupan Diri dan Masyarakat).

Peri kehidupan manusia adalah ibarat seutas dari mata rantai masyarakat. Keharmonisan hidup abermasyarakat adalah ajang untuk mencapai kesempurnaan, karena hanya melalui hidup bermasyarakatlah seseorang dapat menunjukkan dirinya telah terbebas dari hawa nafsu dan kungkungan egonya. Disambutnya warisan kebaikan dari generasi terdahulu dan diwariskannya kebaikan kepada generasi berikutnya. Petani tua renta dengan badan terbungkuk-bungkuk masih saja berusaha menanam kelapa di kebunnya, padahal ia tahu kalau dia tak akan sempat menikmati buahnya. Alasannya, karena dia telah memakan apa yang ditanam oleh orang sebelum dia, lalu dia merasa perlu menanam, agar orang di belakangnya dapat menikmati hasilnya.

Keadaan seperti ini mestinya akan menjadikan dunia kian hari semakin indah. Alam pun rasanya akan semakin bersahabat dengan manusia. Apalagi bila kebaikan manusia itu didasari oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT, maka Allah akan lebih melimpahkan rahmat dan berkahnya, sebagaimana difirmankan-Nya:

Artinya: Apabila penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, niscaya Kami bukakan bagi mereka berbagai rahmat dan keberkahan dari langit dan bumi.(QS. Al-A’raf: 96)

Saying, dalam kenyataan tidak selalu demikian halnya. Masih saja ada tangan-tangan jahil yang menggerogoti ketentraman hidup bersama. Masih saja ada manusia yang hatinya berkarat, gentayangan mengumbar keonaran, sehingga masyarakat diguncang oleh berbagai krisis dan berbagai bencana. Sering kali untuk memenuhi keinginan hawa nafsu yang tak tebatas itu, kebenaran dan keadilan dikorbankan. Dengan mengatasnamakan kebenaran dan keadilan, manusia mencuci tangan dari kegagalannya, lalu melemparkan tanggungjawab kepada orang tau bangsa lain. Bahkan pembantaian yang kejam terhadap suatu kelompok masyarakat dianggap sebagai perang suci, sebagaimana yang hingga kini masih berkecamuk di berbagai daerah dan di berbagai belahan dunia. Suatu bangsa atau beberapa bangsa yang lebih kuat menjatuhkan sanksi kepada masyarakat atau Negara lain dengan berbagai dalih dan alas an. Padahal dampak sanksi itu sendiri terkadang melebihi dahsyatnya permasalahan yang tengah terjadi.

Cinta kasih Allah tak akan dilimpahkan kepada manusia bila manusia itu sendiri tidak melimpahkan cinta kasih antar sesamanya “Irhamu man fil ardhi, yarhamukum man fissama’i” Kasihilah sesame warga di bumi, niscaya kamu akan dikasihi Dia yang di langit. Dalam hadits lain beliau bersabda, “La tadkhulul jannata hatta tu’minu, wala tu’minu hatta tahabbu,” Tidak masuk surga kamu kecuali kamu beriman, dan tidak beriman kamu kecuali kamu berkasih saying antar sesamamu.”

Sudah saatnya cinta kasih yang menjadi inti ajaran setiap agama itu lebih dimasyarakatkan secara global. Janganlah globalisasi hanya digambarkan sebagai era persaingan yang makin ketat, tetapi sebaiknya juga dilukiskan sebagai era persemaian cinta kasih yang lebih intim, tidak Cuma untuk kalangan penganut agama sendiri, tetapi juga untuk penganut agama lain yang berbeda. Sebab, dalam era ini, tak dapat dihindari makin dekatnya hubungan antarmanusia dari berbagai keyakinan agama, ras dan latar belakang budaya yang berbeda.

Categories:

0 komentar:

Posting Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!